Penerapan Pola Asuh Yang Sebaiknya Dihindari Untuk Anak

5 Universitas Terindah di Dunia
July 4, 2019

Penerapan Pola Asuh Yang Sebaiknya Dihindari Untuk Anak

Setiap orangtua pasti memiliki pola asuh yang berbeda-beda kepada anaknya. Perbedaan pola asuh ini yang nantinya berpengaruh terhadap perkembangan sifat dan sifat anak di masa depan.

Bagaimana sih pola asuh yang sudah Ayah dan Ibu terapkan? Apakah pola pengasuhan itu sudah tepat dilakukan untuk putra putri di rumah?

Yuk kita lihat beberapa pola asuh yang sebaiknya tidak diterapkan pada anak karena akan menimbulkan efek yang kurang baik.

1. Permisif

Apakah Ayah dan Ibu menggunakan pola asuh secara permisif? Yaitu memberi kebebasan dalam secara sifat dan sikap dalam tipe pengasuhan.

Dengan pola asuh ini, cenderung memberikan kebebasan pada anak tanpa pengawasan sama sekali. Anak akan senantiasa berusaha mengatur dirinya sendiri tanpa campur tangan orangtua.

Ayah dan Ibu mohon berhati-hati, karena pola asuh permisif akan menyebabkan anak menjadi tidak disiplin dan membentuk dirinya menjadi kurang bertanggung jawab.

2. Otoriter


“Pokoknya kamu harus mengikuti kata-kata Ayah!”

Memaksakan kehendak, merupakan salah satu ciri dari pola asuh otoriter. Anak dituntut untuk menuruti keinginan kedua orangtuanya. Tuntutan ini bisa berupa teriakan, memaksa apa yang sudah diperintahkan.

Pola pengasuhan otoriter cenderung mengekang dan mengharuskan anak mengikuti semua perintah orangtuanya tanpa membantah atau menyampaikan pendapatnya sendiri.

Kondisi ini dapat memicu anak bersikap agresif terhadap orang lain. Anak bisa mengalami depresi bahkan berdampak pada cara sosialisasi hingga menurunkan prestasi di sekolah.

Wah! Hati-hati Ayah dan Ibu, jangan sampai menerapkan pola asuh seperti ini di rumah ya.

3. Terlalu Cuek

Pola asuh ini seolah membuat orangtua tidak banyak memiliki peran dalam mengurus anak, karena orangtua hanya memiliki sedikit kepedulian.

Biasanya, orangtua lebih sedikit meluangkan waktu dengan anak di rumah. Contoh, saat sedang berada di dalam ruangan yang sama, orangtua tidak berinteraksi dengan anak-anaknya dengan alasan bisa karena anak yang menghabiskan waktu bermain sementara orangtua sibuk dengan pekerjaan atau hanya sekedar menonton televisi.

Dalam pola asuh ini, orangtua juga jarang atau bahkan tidak pernah menanyakan kegiatan anak selama seharian di sekolah. Bahkan tidak peduli apakah anak sudah mengerjakan tugas sekolah atau belum, hingga bagaimana perkembangan anak di sekolah, atau bahkan anak benar-benar datang atau tidak ke sekolah.

Karakter orangtua yang terlalu cuek secara tidak langsung akan membentuk anak mengalami kesulitan dalam menaati peraturan. Anak cenderung suka melanggar peraturan-peraturan yang ada. Ini disebabkan dirinya kurang mendapatkan pengawasan, merasa tidak diperhatikan hingga tidak pernah merasakan peraturan dari kedua orangtuanya.

4. Temporizer

Pola asuh orangtua ini biasanya terkesan tidak konsisten. Terkadang orangtua seakan tidak punya pendirian atau bahkan bisa mengingkari kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Padahal ini merupakan contoh yang kurang baik karena bisa ditiru anak.

Bila anak terus menerima pola asuh seperti ini, dirinya akan merasa bingung terhadap peraturan yang ada di dalam rumah. Ia juga menjadi pribadi yang tidak tegas karena meniru perilaku dari orangtuanya sendiri.

Tidak jarang pola asuh seperti ini justru menimbulkan perasaan kurang percaya diri pada anak lho, Ayah Ibu.

5. Terlalu Melindungi

Biasanya orangtua merasa begitu khawatir dengan keadaan anaknya sendiri, sehingga cenderung terlalu berlebihan dalam melindungi. Pola asuh seperti ini bisa disebut posesif karena takut terjadi sesuatu pada anak.

Sikap terlalu melindungi membuat anak merasa terkekang, karena terlalu banyak larangan dengan alasan demi kebaikan. Contohnya, tidak diizinkan mengikuti olahraga karate karena takut terluka. Padahal ini seolah terlalu mengekang anak untuk tetap berada di dalam rumah tanpa bersosialisasi dan mengembangkan bakat yang dimiliki.

Ayah dan Ibu, melindungi dari bahaya memang diperbolehkan, namun terlalu berlebihan pun tidak baik untuk perkembangan anak.

Kelima pola asuh di atas sebaiknya dihindari dalam mengasuh anak demi perkembangan sifat dan sikap yang baik di masa depan. Ayah dan Ibu juga perlu berdiskusi mengenai pola asuh seperti apa yang tepat diterapkan untuk anak.

Ayo Ayah Ibu! Mulai perhatikan kembali pola asuh yang sesuai untuk anak kita.

Sumber: Popmama.com disadur oleh Kejar.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *